img_head
SEJARAH SINGKAT PENGADILAN NEGERI RANGKASBITUNG

Sejarah Singkat Pengadilan Negeri Rangkasbitung

Telah dibaca : 511 Kali

Pengadilan Negeri Rangkasbitung adalah salah satu Pengadilan berstatus kelas II yang berada di bawah lingkungan Pengadilan Tinggi Banten, wilayah hukumnya meliputi Kabupaten Lebak Provinsi Banten dengan luas wilayah 285.996 Ha. Wilayah Kabupaten Lebak sendiri dibagi-bagi lagi ke dalam 23 Kecamatan. Batas wilayah Sebelah Utara Kabupaten Lebak adalah Kabupaten Serang, di sebelah baratnya Kabupaten Pandeglang, kemudian sebelah timur Kabupaten Bogor, dan sebelah selatan berbatasan dengan Samudera Indonesia.

Kabupaten Lebak merupakan kabupaten yang memiliki luas wilayah paling besar di bandingkan wilayah lainnya se-Jawa Barat dan Banten.

Pengadilan negeri pada awalnya berdiri tahun 1964. Terletak di jalan alun-alun timur Nomor 6, Rangkasbitung. Gedung ini merupakan peninggalan Hindia Belanda dengan luas bangunan 546m2. Saat ini bangunan tersebut memang masih ada namun dengan kondisi yang sudha memprihatinkan. Status dari bangunan lama PN Rangkasbitung sekarang merupakan hak milik dari Mahkamah Agung RI yang dibuktikan oleh sertifikat Nomor HP 2 Nomor 81/1981. Namun pada tahun 1975 pindah ke jalan RA. Kartini Nomor 55 di atas tanah seluas 3.280 m2 luas bangunan 1.096 m2, mengingat kondisi bangunan lama tersebut sudah tidak layak lagi untuk melaksanakan aktivitas-aktivitas kendinasan. Gedung baru ini dibangun berdasarkan DIP tahun anggaran 1975/1976 dengan sertifikat Nomor HP 15 Nomor 95/1975.

Bangunan PN Rangkasbitung terdiri dari 2 lantai dengan 2 ruang sidang. Ruang sidang I terletak di lantai pertama, sementara ruang sidang II terletak di lantai dua. Selain berisi ruang-ruang yang diperuntukkan bagi perangkat pengadilan (para hakim dan jajarannya serta panitera dan jajarannya) bangunan PN Rangkasbitung juga dilengkapi ruang tahanan, ruang jaksa, perpustakaan, ruang arsip, ruang pertemuan, ruang mediasi, ruang koperasi, ruang komputer, ruang barang bukti, ruang yukti karini, kantin dan musholla.

Dengan kondisi wilayah hukum yang paling luas se-Jabar dan Banten ini, PN Rangkasbitung memiliki tempat sidang tetap di luar Pengadilan atau disebut dengan istilah Zitting Platseen. Lokasinya berada di Kecamatan Malingping sekitar 100 km dari kota Rangkasbitung, ibu kota Kabupaten Lebak. Bangunan tempat sidang tetap ini memiliki luas 250 m2 dibangun berdasarkan DIP tahun anggaran 1982/1983. Namun, sekarang bangunan tersebut dalam kondisi rusak berat dan tidak dapat dipergunakan lagi. Tempat sidang tetap ini diperuntukkan untuk melaksanakan proses pengadilan bagi kasus-kasus yang terjadi di Kecamatan Malingping, Wanasalam, Panggarangan, Bayah, dan sekitarnya yang memiliki jarak cukup jauh dari Rangkasbitung.

Tetapi, pemanfaatan tempat sidang tetap di luar pengadilan ini kurang optimal. Sebabnya, di Kecamatan Malingping tidak ada Kantor Cabang Kejaksaan Negeri sehingga semua perkara pidana yang berasal dari kecamatan-kecamatan yang disebutkan di atas selalu dilimpahkan dan pada akhirnya disidangkan di Pengadilan Negeri Rangkasbitung. Sebab lainnya, karena perkara-perkara perdata jumlahnya juga sangat sedikit di kecamatan-kecamatan tersebut yang menyebabkan tempat sidang tetap di luar pengadilan ini lebih banyak menganggur.

Sebagai gambaran, perkara perdata yang masuk ke Pengadilan Negeri Rangkasbitung di tahun 2007 berjumlah 5 (lima) perkara ditambah 2 (dua) perkara yang merupakan sisa tahun 2006, sehingga total keseluruhan perkara perdata di tahun 2007  berjumlah tujuh perkara.  Keseluruhan perkara perdata di tahun 2007 tersebut telah diputus oleh para hakim Pengadilan Negeri Rangkasbitung sehingga di tahun 2008 tidak lagi memiliki tunggakan perkara perdata.

Kondisi yang bertolak belakang, dapat kita lihat dari data tentang perkara pidana yang ada di Pengadilan Negeri Rangkasbitung. Dibandingkan dengan perkara perdata, perkara pidana cukup banyak yang masuk. Di tahun 2007 terdata sebanyak 212 perkara pidana masuk Pengadilan Negeri Rangkasbitung. Jumlah itu belum ditambah sisa perkara pidana dari tahun 2006 yang berjumlah 331 perkara. Jumlah perkara pidana yang telah diputus selama tahun 2007 berjumlah 209 perkara. Data lainnya, jumlah perkara pidana yang diproses banding berjumlah 1 perkara dan yang diproses kasasi juga 1 perkara. Sementara jumlah perkara pidana dari Pengadilan Negeri Rangkasbitung yang diajukan proses peninjauan kembali (PK) jumlahnya nihil.

Kasus pidana yang paling banyak terjadi adalah perkara pencurian dan penganiayaan. Kasus pidana yang menjadi perhatian di tahun 2007 adalah pembunuhan berkedok dukun palsu. Lokasi kejadiannya berada di Kecamatan Cileles. Pelaku dari kasus ini berjumlah dua orang.

Kisahnya, kedua pelaku mengaku sebagai dukun yang dapat menggandakan uang. Banyak orang tertarik dengan janji kedua pelaku dan berharap mendapatkan kekayaan dengan usaha minimal. Para korban diharuskan untuk menyetorkan uang sebesar Rp.17Juta dan dijanjikan dapat dilipatgandakan dua hingga tiga kali lipat. Namun, pada akhirnya kedua pelaku tidak dapat menggandakan uang para korbannya. Merasa terdesak tidak dapat memenuhi janji, para dukun palsu ini mengambil jalan pintas dengan cara membunuh para korbannya.

Akhirnya, 8 orang harus menghembuskan nafas terakhir di tangan para dukun palsu ini. Para korban di bunuh dengan racun potas yang dimasukkan ke dalam the dan diminum seolah-olah sebagai proses ritual. Salah satu dari pelaku berprofesi sebagai tukang ojek. Untuk kasus ini majelis hakim Pengadilan Negeri Rangkasbitung menjatuhkan hukuman mati kepada kedua pelaku.